Pendidikan Agama Masuk UN YOGYAKARTA, (www.bataviase.co.id) – Pemerintah telah menyelesaikan pedoman operasional standar atau pedoman standardisasi pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh, mengatakan, pedoman itu akan segera disahkan sehingga bisa digunakan dalam penyelenggaraan UN tahun 2011. “Drafnya sudah kita susun dan disampaikan ke Presiden untuk segera disahkan. Mudah-mudahan pekan depan sudah disahkan,” urainya seusai menjadi pembicara kunci pada Sidang Senat Terbuka Milad ke-50 Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Sabtu (18/12). Milad dihadiri Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr Haedar Nashir, dan ratusan dosen serta civitas akademika perguruan tinggi itu. Mendiknas mengungkapkan, tambahan mata pelajaran yang akan masuk dalam UN 2011 adalah Pendidikan Agama Islam. Mekanisme pelaksanaan UN 2011 juga sedikit berubah dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, Nuh tidak menjelaskan lebih jauh terkait perubahan mekanismeitu. Ia minta menunggu setelah pedoman tersebut disahkan. Formula baru UN dibahasdalam rapat kerja (raker) pemerintah bersama panitia kerja (Panja) UN Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), pekan lalu. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), Mansyur Ramly, mengatakan formula ini akan mengakomodasi kegiatan sekolah. Mansyur mengungkapkan, ada beberapa poin yang disepakati dari hasil raker tersebut. Di antaranya, UN diselenggarakan sekitar April dan Mei 2011. “Selain itu, formula baru UN harus mengakomodasi nilai rapor dan kegiatan sekolah,” tuturnya. Pola pikir Mendiknas dalam pidatonya pada Milad UAD mengatakan, tugas terpenting perguruan tinggi membangun mindset (pola pikir) terhadap mahasiswa dan civitas akademiknya. Menurut Mendiknas, ada lima pola pikir yang harus ditanamkan oleh perguruan tinggi dalam diri civitasnya. Kelima pola pikir tersebut, yakni pola pikir berbasis disiplin ilmu tertentu, mensintesiskan berbagai ilmu, kreatif, saling menghargai, dan pola pikir berbasis etika. “Kalau pola pikirnya melenceng, hasilnya juga akan melenceng,” dia mengingatkan. Dengan pola pikir ini, lanjut Nuh, akan menghasilkan generasi yang mampu menyelesaikan persoalan, bukan mempersoalkan persoalan. Perguruan tinggi punakan mampu memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Dia menilai UAD sebagai kampus Muhammadiyah telah memiliki bekal dalam hal itu. Nuh mengisahkan, tahun 1912 KH Ahmad Dahlan sudah berpikir mendirikan sekolah dan rumah sakit. Ini adalah bisnis utama Muhammadiyah, bisnis yang tidak akan selesai. “UAD harus mampu mencerdaskan dan menyehatkan masyarakat,” tambahnya. Menurut Nuh, Indonesia sebenarnya punya potensi besar karena memiliki penduduk 230 juta. Apabila penduduk ini pintar dan sehat, akan mampu menjadikan Indonesia lebih berprestasi. Rektor UAD, Kasiyarno M Hum, mengatakan, peningkatan mutu di UAD bukan sekadar untuk membentuk citra, namun juga dilandasi pada keinginan tulus mengembangkan ilmu pengetahuan. Usaha yang dilakukan salah satunya adalah menerapkan standar mutu berbasis ISO 90012008 dan IWA22007 di hampir semua unit. “Pada era ini, UAD didorong membuat terobosan-terobosan untuk menjadi perguruan tinggi yang mampu go international sehingga bisa bringing the world to UAD, dan UAD to the world,” terangnya. Niat baik untuk mencapai hal itu, kata dia, belum memperoleh dukungan sepenuhnya dari kalangan civitas akademika.